Rabu, 30 Desember 2015

BRAHMĀYU SUTTA

BRAHMĀYU SUTTA
Dibabarkan      : Sang Buddha
Kepada            : Brahmana Brahmayu
Tempat            : Negeri orang-orang Videha
Latar belakang : Seorang Brahmana Brahmayu berusia 120 tahun yang pakar dalam 3 Veda salah satunya mahir mengenai filosofi alam dan tanda-tanda manusia besar, kemudian beliau menyuruh siswanya yang bernama Uttara untuk mencari tahu kebenaran tentang guru Gotama memiliki 32 tanda manusia besar.
 Inti                  : 32 tanda manusia besar yang dimiliki oleh Sang Buddha.
Pembahasan
            Pada saat Sang Buddha berada di negeri orang-orang Videha bersama sekelompok besar Sangha bhikkhu, seorang brahmana Brahmayu mendengar laporan baik tentang guru Gotama yang sepenuhnya  telah tercerahkan, sempurna dalam pengetahuan sejati, dan sempurna dalam perilaku, guru para dewa dan manusia, Beliau menyatakan dunia ini bersama dengan para dewa, mara dan brahmanya, dan Beliau merealisasikan sendiri melalui pengetahuan langsung. Selain itu Beliau juga mengajarkan Dhamma yang indah pada awalnya, pertengahannya, dan indah pada akhirnya, dengan arti dan penyususunan kata yang benar serta Beliau mengungkapkan kehidupan suci yang sepenuhnya sempurna dan murni. Setelah mendengar pernyataan tersebut Brahmana Brahmayu kemudian ingin mengetahui apakah guru Gotama benar memiliki 32 tanda manusia besar dari pernyataan tersebut, dan ia menyuruh siswanya yang bernama Uttara untuk mencari kebenaran tersebut. Tanda-tanda manusia besar tersebut antara lain:
1.      Di telapak kaki Beliau ada roda-roda dengan seribu jeruji dan batang penghubung yang semuanya lengkap
2.      Beliau memiliki tumit yang runcing
3.      Beliau memiliki jari tangan dan jari kaki yang panjang
4.      Tangan dan kaki beliau halus dan lembut
5.      Beliau memiliki tangan dan kaki yang berjala
6.      Telapak kaki beliau melengkung
7.      Beliau memiliki kaki seperti kaki kijang
8.      Ketika Beliau berdiri tanpa membungkuk, dua telapak tangannya menyentuh dan bergesekan dengan lututnya
9.      Alat kelamin prianya terselubung lapisan pelindung
10.  Kulit Beliau berwarna kilau keemasan
11.  Beliau berkulit halus, dan karena halusnya debu dan pasir tidak menempel di kulitnya
12.  Bulu tubuhnya tumbuh satu per satu, tiap helai bulu tumbuh satu saja di lubangnya
13.  Ujung bulu tubuhnya menghadap ke atas berwarna hitam kebiruan, warna collyrium, yang keriting dan melingkar ke kanan
14.  Beliau memiliki tangan dan kaki yang lurus
15.  Beliau memiliki tujuh kecembungan[1]
16.  Beliau memiliki dada seekor singa
17.  Alur diantara dua bahunya terisi masuk
18.  Beliau memiliki bentangan seperti pohon banyan; rentangan lengannya sama dengan tinggi tubuhnya
19.  Leher dan bahunya rata
20.  Cita rasanya sangat kuat
21.  Beliau berahang singa
22.  Beliau memiliki 40 gigi
23.  Giginya rata
24.  Giginya tanpa celah
25.  Giginya sangat putih
26.  Beliau memiliki lidah yang besar
27.  Beliau memiliki suara yang merdu, seperti kicau burung karavika
28.  Matanya biru tua
29.  Beliau memiliki bulu mata seperti bulu mata lembu jantan
30.  Beliau memiliki rambut yang tumbuh di antara dua alisnya, yang berwarna putih dengan kilau kapas yang lembut
31.  Kepalanya berbentuk seperti turban
32.  Tanda pada manusia besar, uņhīsa; menjelaskan tonjolan yang sering terlihat di puncak kepala patung Buddha.
Setelah melihat tanda-tanda manusia besar pada guru Gotama kemudian Uttara memberitahukannya kepada Brahmana Brahmayu.
Akhir sutta
Brahmana brahmayu menemui sang buddha  dan beliau telah melihat 32 tanda manusia besar ada pada dirinya. Kemudian ia memberikan beberapa pertanyaan pertanyaan kepada Sang Buddha. Kemudian Sang Buddha memberikan jawaban beberapa bait yang intinya tentang ia yang terbebebas dari kelahiran, pikirannya telah dimurnikan, terbebas dari hawa napsu, lengkap dalam kehidupan suci, serta telah mentransendenkan[2] segalanya, inilah yang disebut Buddha. Setelah mendengar khotbah dari sang Buddha tersebut Brahmana Brahmayu berlutut dan mencium kaki Sang Buddha dan menyatakan berlindung kepadaNya dan kemudian Sang Budddha memberikan beberapa instruksi bertingkat diantaranya mengenai bedana, moralitas dan empat kebenaran mulia.

Kesimpulan;
Seorang brahmana brahmayu yang mahir dalam tanda-tanda manusia besar mencari kebenaran tentang pernyataan –pernyataan mengenai sang Buddha dan ingin mengetahui adakah 32 tanda manusia besar ada pada dirinya. Kemudia setelah menyuruh siswanya untuk mencari tahu tentang kebenaran tersebut akhirnya Brahmana brahmayu menyatakan berlindung kepada Buddha dan karena ia telah dapat melihat dhamma dan memahami Dhamma sebagaimana mestinya sehingga setelah meninggal ia terlahir secara spontan di alam yang Bahagia.

Referensi
Bhikkhu Ňānamoli dan Bhikkhu Bodhi. 2008. Terjemahan The middle length discourses of the Buddha. Klaten: Vihara B


[1] Tujuh hal itu adalah bagian belakang dua kaki dan dua tangan, dua bahu dan sosok tubuh
[2] transenden /transéndén/ a 1 di luar segala kesanggupan manusia; luar biasa; 2 utama (KBBI halm 1544)

AGGIVACCHAGOTTA SUTTA

AGGIVACCHAGOTTA SUTTA
(Kepada Vacchagotta mengenai Api)
Dibabarkan      : Sang Buddha
Kepada            : Para Bhikkhu
Tempat            : Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika
Latar belakang :Vacchagotta si kelana menghadap Yang Terberkahi dan kemudian mananyakan beberapa pertanyaan kepada Yang Terberkahi.
Inti                   : Sepuluh pertanyaan mengenai pandangan-pandangan dan perumpamaan perginya arah api yang padam.
Pembahasan
Vacchagotta bertanya kepada Sang Buddha tentang:
a.       memiliki pandangan dunia ini kekal; hanya ini yang benar dan yang lain salah,
b.      dunia ini tidak kekal; hanya ini yang benar dan yang lain salah,
c.       dunia ini terbatas; hanya ini yang benar dan yang lain salah,
d.      dunia ini tidak terbatas; hanya ini yang benar dan yang lain salah,
e.       jiwa dan tubuh adalah sama; hanya ini yang benar dan yang lain salah,
f.       jiwa adalah satu hal dan tubuh adalah yang lain; hanya ini yang benar dan yang lain salah,
g.       setelah kematian Tathagata ada; hanya ini yang benar dan yang lain salah,
h.      setelah kematian Tathagata tidak ada; hanya ini yang benar dan yang lain salah
i.        setelah kematian Tathagata sekaligus ada dan tidak ada; hanya ini yang benar dan yang lain salah
j.        setelah kematian Tathagata bukan-ada-pun-bukan-tidak-ada; hanya ini yang benar dan yang lain salah
Sang Buddha menjawab semua pertanyaan tersebut bahwa beliau tidak memiliki pandangan seperti itu, kemudianvaccha menanyakan bahayanya karena tidak mengambil salah satu dari pandangan tersebut. Beliau kemudian menanggapi dengan penjelasan-penjelasan sbb:
ü pandangan spekulatif bahwa dunia ini kekal merupakan belukar pandangan, belantara pandangan, pemutarbalikan pandangan, pengombangambingan pandangan, belenggu pandangan. Pandangan itu dikelilingi oleh penderitaan, kekesalan hati, keputusasaan, dan tidak membawa menuju ketidaktertarikan, hilangnya nafsu, penghentian, kedamaian, pengetahuan langsung, pencerahan, menuju nibbana.
ü Pandangan spekulatif[1] bahwa (a…j). merupakan belukar pandangan………menuju nibbana. Karena dengan melihat bahaya ini maka Sang Buddha tidak mengambil pandangan-pandangan spekulatif ini.
ü Kemudian Sang Buddha menjelaskan mengenai pandangan spekulatif beliau, bahwa spekulatif merupakan sesuatu yang telah disingkirkan oleh Tathagata. Karena telah melihat hal mengenai muncul dan lenyapnya khanda.
[ Setelah mendengarkan penjelasan tersebut, Vaccha menanyakan seorang pikiran bhikkhu yang sudah terbebas seperti Guru Gotama apakah muncul kembali, tidak muncul kembali, sekaligus muncul dan tidak, bukan-muncul-pun-bukan-tidak-muncul?
Ø  Sang Buddha menanggapinya bahwa istilah seperti itu tidak berlaku, kemudian vaccha merasa kebingungan dan jatuh dalam kekacauan setelah apa yang disampaikan Sang Buddha tadi karena Dhamma ini sungguh dalam, sulit dilihat dan dipahami, halus, untuk dialami oleh para bijaksana. Tetapi kemudian Sang Buddha memberikan penjelasan mengenai api. Bahwa api yang mati ditiup padam maka api tersebut tidak tau kemana arah perginya. Demikian pula dengan Tathagata telah meninggalkan dari lima khanda dan sudah memotong di akarnya sehingga tidak muncul lagi. Beliau yang sudah meninggalkan lima khandha ini sungguh dalam, tak terukur, tak terbatas bagaikan samudra, maka istilah semacam itu tidak berlaku.
Setelah mendengar penjelasan tersebut Vacchagotta merasa jelas dan menyatakan untuk berlindung kepada Triratna untuk sepanjang hidupnya.

Kesimpulan:
            Vacchagotta menanyakan sepuluh pertanyaan mengenai masing-masing pernyataan apakah hanya ini yang benar dan yang lain salah. Sang Buddha menjelaskan pandangan-pandangan spekulatif seperti itu tidaklah berlaku karena Beliau telah mengetahui bahayanya dari pandangan semacam itu. Kemudian pertanyaan mengenai tempat munculnya pikiran yang telah terbebas demikian dan Sang Buddha menjelaskan mengenai perginya arah api yang ditiup padam. Begitu pula lima khandha telah ditinggalkan dan bila telah mengetahui hal demikian istilah-istilah semacam itu tidak berlaku lagi.

Referensi :
Bhikkhu Ñanamoli dan Bhikkhu Bodhi. 2007. Majjhima Nikaya 4 (terjemahan The Middle Length Discourses of the Buddha). Klaten: Vihara Bodhivamsa.



[1] 1 dng pemikiran dalam-dalam secara teori; 2 bersifat spekulasi (menurut KBBI hal 1372)

ABHAYARĀJAKUMĀRA SUTTA

ABHAYARĀJAKUMĀRA SUTTA
Dibabarkan      : Sang Buddha
Kepada            : Pangeran Abhayarājakumāra
Tempat            : Rajagaha, Hutan Bambu
Latar belakang : Nighantha Nataputta menyuruh pangeran Abhayarājakumāra bertanya       pada Sang Buddha mengenai ucapan Beliau yang tidak menyenangkan tentang nasib Devadatta.
Isi                    : Sang Buddha menjelaskan 6 macam ucapan.
Pembahasan
            Pada saat pangeran Abhayarājakumāra disuruh oleh Nighantha Nataputta untuk menyangkal ucapan Tathagata yang tidak menyenangkan bagi orang lain yang menyatakan tentang Devadatta, Devadatta dipastikan untuk berada dalam kekurangan, dipastikan berada di neraka, dipastikan untuk tetap berada di neraka selama satu kalpa. Kemudian pangeran Abhayarājakumāra menemui Tathagata dan mengatakan apa yang diperintahkan oleh Nighanta Nataputta, kemudian Sang Tathagata menjelaskan mengenai 6 macam ucapan yaitu:
1.    Ucapan yang diketahui oleh Tathagata sebagai tidak betul, tidak benar, dan tidak bermanfaat, dan juga tidak dikehendaki dan tidak menyenangkan bagi orang lain; ucapan seperti itu tidak diucapkan oleh Tathagata.
2.    Ucapan yang diketahui oleh Tathagata sebagai betul dan benar, tetapi tidak bermanfaat, dan juga tidak dikehendaki dan tidak menyenangkan bagi orang lain; ucapan seperti itu tidak diucapkan oleh Tathagata.
3.    Ucapan yang diketahui oleh Tathagata sebagai betul dan benar, dan bermanfaat, tetapi yang tidak dikehendaki dan tidak menyenangkan bagi orang lain; Tathagata mengetahui waktu untuk menggunakan ucapan seperti itu.
4.    Ucapan yang diketahui oleh Tathagata sebagai tidak betul, tidak benar, dan tidak bermanfaat, tetapi yang dikehendaki dan menyenangkan bagi orang lain; ucapan seperti itu tidak diucapkan oleh Tathagata.
5.    Ucapan yang diketahui oleh Tathagata sebagai betul dan benar, tetapi tidak bermanfaat, yang dikehendaki dan menyenangkan bagi orang lain; ucapan seperti itu tidak diucapkan oleh Tathagata.
6.    Ucapan yang diketahui oleh Tathagata sebagai betul, benar, dan bermanfaat, yang dikehendaki dan menyenangkan bagi orang lain; Tathagata mengetahui waktu untuk menggunakan ucapan seperti itu.
Tathagata menjelaskan demikian karena Beliau memiliki kasih sayang pada para makhluk. Penjelasan yang muncul pada diri Tathagata karena unsur-unsur jawaban itu telah ditembus sepenuhnya oleh Tathagata.

Kesimpulan :
            Pertanyaan yang disampaikan oleh pangeran Abhayarājakumāra kepada Tathagata, kemudian Beliau menjelaskan 6 macam ucapan yang perlu diucapkan atau tidak diucapkan, sesuai dengan manfaat yang dikehendaki dan menyenangkan atau tidak  bagi orang lain. Sang Tathagata mengemukakan secara langsung yang muncul pada dirinya karena unsur mengenai jawaban tersebut telah ditembus sepenuhnya oleh Tathagata. Setelah mendengar penjelasan dari Tathagata pangeran Abhayarājakumāra merasa sangat puas dan akan berlindung sepenuh hidupnya kepada Beliau.

Referensi :

Bhikkhu Ñānamoli dan Bhikkhu Bodhi. 2006. Majjhima Nikaya 3. Klaten: Vihara Bodhivaṁsa.

EKÃDASAKA NIPÃTA

EKÃDASAKA NIPÃTA

             I.      Latar Belakang
            Ekadasaka Nipata ini disampaikan oleh Sang Buddha kepada para Bhikkhu mengenai macam kehancuran dan manfaat mengembangkan cinta kasih yang akan diuraikan dalam penjelasan – penjelasan sebagai berikut.

          II.      Pembahasan
a.       Macam kehancuran
      Ada sebelas macam kehancuran yang dapat menimpa seorang Bhikkhu yang mencerca Bhikkhu di dalam komunitasnya yaitu :
-          kurang maju di dalam usahanya
-          mundur dari tingkat yang sudah dicapainya
-          pemahaman dhamma yang ternoda dan tercemar
-          terperangkap oleh kesombongannya sendiri
-          tidak bahagia menjalani kehidupan suci
-          cenderung melakukan pelanggaran terhadap peraturan disiplin
-          cenderung kembali ke kehidupan berumah tangga
-          cenderung terkena penyakit yang  tak tersembuhkan
-          cenderung menjadi gila secara mental
-          meninggal dengan pikiran yang bingung
-          cenderung terlahir di Alam – alam bawah.




b.       Berkah cinta kasih
            Dalam pembebasan pikiran dengan cinta kasih dikembangkan dan ditumbuhkan, sering dilatih, dijadikan kendaraan dan landasan seseorang, ditegakkan dengan mantap, disatukan dan dijalankan dangan tepat, maka sebelas berkah bisa diharapkan :
-          tidur dengan tenang
-          tidak mimpi buruk
-          dicintai oleh manusia
-          dicintai oleh makhluk bukan manusia
-          dilindungi oleh para dewa
-          api, racun dan senjata tidak bisa melukai
-          pikiran mudah terkonsentrasi
-          kulit wajah menjadi jernih
-          bila meninggal tidak akan bingung
-          jika tidak mencapai Arahat
-          akan terlahir kembali di alam brahma.


       III.      Kesimpulan
Dari macam kehancuran tersebut yang dapat menimpa seorang Bhikkhu, diharapkan mereka dapat menghindarkan dari hal tersebut dan dapat mengembangkan berkah-berkah cinta kasih.


ATTHAKA NIPÃTA

ATTHAKA NIPÃTA

        I.      Latar Belakang
            Dalam bagian sutta ini terdapat delapan manfaat dan cara-cara untuk memperoleh suatu ketenangan dalam hidup yang diajarkan oleh Sang Buddha kepada para bhikkhu yang bertujuan untuk mengetahui penyebab dari suatu kondisi duniawi.

     II.      Pembahasan
a.      Manfaat praktek meditasi cinta kasih
Ada delapan manfaat yang diperoleh dari praktek meditasi cinta kasih diantaranya :
-         dapat tidur nyenyak
-         terbangun dengan segar dan sehat
-         tidak terganggu mimpi buruk
-         diperlakukan dengan hormat oleh manusia
-         diperlakukan dengan hormat oleh non manusia
-         dilindungi oleh para dewa
-         tidak terluka oleh api, racun atau senjata tajam
-         pasti terlahir di alam brahma

b.   Perubahan-perubahan Kehidupan
      Ada delapan kondisi duniawi yang Sang Buddha jelaskan kepada para Bhikkhu yang diantaranya mengenai perolehan(untung), kehilangan(rugi), ketenaran, nama  buruk, pujian, celaan, kesenangan dan penderitaan.

c.    Delapan kekuatan
            Ada delapan kekuatan dalam dunia ini yaitu :
-          kekuatan seorang anak yang terletak pada tangisannya
-          seorang wanita pada kemarahannya
-          seorang pandit pada senjatanya
-          seorang raja pada kedaulatannya
-          seorang yang tidak bijaksana pada kecaman dan caci makinya
-          seorang yang bijaksana pada pertimbangannya yang seksama mengenai pro dan kontranya
-          orang berpengetahuan pada kecermatannya
-          kekuatan bhikkhu pada ketabahan dan kesabarannya.

d.       Delapan pemikiran orang besar
Delapan pemikiran besar yang dilakukan bhante Anuruddha tentang dhamma yaitu :
-          Dhamma ini adalah untuk orang yang sedikit keinginannya, bukan untuk orang yang menginginkan banyak hal
-          Dhamma ini adalah untuk orang yang merasa puas, bukan untuk orang yang sulit dipuaskan
-          Dhamma ini adalah untuk orang yang senang pada kesendirian, bukan untuk orang yang senang ditemani
-          Dhamma ini adalah untuk orang yang penuh semangat, bukan untuk orang yang malas
-          Dhamma ini untuk orang yang amat waspada, bukan untuk yang lengah
-          Dhamma ini untuk orang yang pikirannya terkonsentrasi,  bukan untuk orang yang pikirannya mudah terselewengkan
-          Dhamma ini adalah untuk orang yang bijaksana, bukan untuk yang tidak pandai
-          Dhamma ini adalah untuk orang yang senang pada nibbhana, bukan untuk orang yang senang pada keduniawian.

e.    Delapan macam ucapan ariya
            Ada delapan macam ucapan oleh seorang Ariya yaitu :
-          karena belum melihat, dia berkata belum melihat
-          karena belum mendengar, dia berkata belum mendengar
-          karena belum merasakan, dia berkata belum merasakan
-          karena belum mengetahui, dia berkata belum mengetahui
-          karena telah melihat, dia berkata telah melihat
-          karena telah mendengar, dia berkata telah mendengar
-          karena telah merasakan, dia berkata telah merasakan
-          karena telah mengetahui, dia berkata telah mengetahui.


       III.      Kesimpulan

Delapan cara ini dimaksudkan agar seeorang melakukan tindakan sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh Sang Buddha di dalam kehidupan duniawi khususnya bagi para Bhikkhu dan umat awam lainnya. 

Susima Paribbajaka Sutta


NIDANA SAMYUTTA
Ø  Susima Paribbajaka Sutta

Latar Belakang
            Pada suatu ketika yang terbekahi bersama para Bhikkhu yang telah mencapai Arahat setelah massa Vasa berlalu sedang berdiam di Rajagaha di Hutan Bambu,Suaka Tupai.mereka dihormati,dihargai,dijunjung tinggi, dimuliakan,dan dipuja, dan Beliau memperoleh kebutuhan jubah, makanan, tempat tinggal dan obat- obatan. Di waktu yang bersamaan terdapat sekelompok besar kelana.

Pembahasan
            Dalam sekelompok besar tersebut terdapat seorang kelana yang bernama Susima. Susima diajak sahabatnya untuk menjalani kehidupan suci agar mereka juga dihormati dan dihargai, dijunjung tinggi, , dimuliakan, dan dipuja, dan memperoleh kebutuhan jubah, makanan, tempat tinggal dan obat- obatan. Kemudian Kelana Susima menemui yang mulia Ananda, dan berkata bahwa ia ingin menjalani kehidupan suci di dalam Dhamma dan Vinaya. Kelana Susima kemudian menjadi samanera dan menerima pentahbisan sebagai Bhikkhu di bawah yang terbekahi. Sebenarnya susima masuk kedalam Sangha dengan maksud memiliki kesaktian sehingga dia menjadi terkenal dan mendapat keuntungan duniawi, karena susima mendengar pernyataan Para Bhikkhu yang disampaikan kepada Sang Buddha bahwa mereka telah mencapai Arahat. Maka Susima menenyakan berbagai macam pertanyaan kepada Para Bhikkhu diantaranya sebagai berikut : Kekuatan spiritual,Telinga dewa, Ingat berbagai kediaman lampau, Mata dewa,
Berdiam di dalam pembebasan – pembebasan damai, Pikiran para makhuk dan manusia lain. Yang diuaraikan secara panjang namun para Bhikkhu hanya menjawab singkat. Dan mereka berkata karena mereka telah mengatakan bahwa telah terbebas melalui kebijaksanaan. Karena tidak puas dengan jawaban para Bhikkhu, kemudian Susima bertanya lagi kepada Sang Buddha. Kemudian Sang Buddha membimbing Susima melalui pelajaran meditasi yang sama, mengujinya lewat pertanyaan – pertanyaan untuk mengetahui pemahamannya mengenai 5 khandha , sifat sejatinya yang tidak kekal, tidak memuaskan, dan tanpa inti, dan akhirnya memantapkan kebijaksanaannya bahwa tidaak satu pun dari khandha ini yang dapat dianggap ”ini milikku; ini aku; ini diriku”. Pada ahkir khotbah susima mendapatkan pengetahuan lengkap tentang Dhammma dengan pencapaian tingkat Arahat itu sendiri tanpa memiliki kesaktian – kesaktian supranatural, dia pun mengaku pada sang Buddha bahwa pada mulanya dia masuk ke dalam Sangha dengan motif tertentu, dan kemudian Susima mohon maaf untuk maksud buruk seperti itu.

Kesimpulan   
            Seorang kelana Susima yang menjadi Bhikkhu hanya untuk  mendapatkan kesaktian seperti seorang Arahat, kemudian sang Buddha memberikan khotbah mengenai pemahaman 5 khandha yang sifat sejatinya tidak kekal dan pada akhir khotbah Susima mendapat pengetahuan lengkap tentang Dhamma.     







MAJJHIMA NIKAYA

MAJJHIMA NIKAYA

Ø Pengertian
Majjhima Nikaya ð merupakan bagian ke dua dari sutta pitaka yang berisi khotbah-khotbah Sang Buddha yang secara harafiah sutta-suttanya memiliki  ”panjang yang menengah”. Sebagian besar khotbah-khotbah pada majjhima Nikaya ditujukan kepada para bhikkhu, karena mereka hidup di lingkungan yang terdekat dengan Sang guru dan telah mengikuti Beliau menuju kehidupan tak berumah untuk mempraktekan ajaran beliau.
Ø Perincian
            Majjhima nikaya terdiri dari 152 sutta yang terdapat didalam 3 buku yang disebut rangkaian limapuluh(paņņāsa).
I.                   Buku pertama, mūlapaņņāsa menjelaskan 50 sutta pertama di dalam 5 vagga yaitu;
  1. Mulapariyaya Vagga
    1. Mulapariyaya sutta : menjelaskan dasar dari semua fenomena, menetapkan 24 kategori
    2. Sabbasava Sutta : mendefinisikan kekotoran mental
    3. Dhammadayada sutta ; terdiri dari 2 khotbah
    4. Bhayabherava sutta ; kehidupan menyendiri seorang bhikkhu
    5. Anangana sutta : 4 jenis individu
    6. Akhankheyya sutta : pengembangan sila, samadhi, panna bagi bhikkhu
    7. Vattha sutta ; menjelaskan perbedaan pikiran murni dan tidak
    8. Sallekha sutta : menjelaskan melenyapkan pandangan salah
    9. Sammaditthi sutta : menjelaskan pandangan benar secara rinci
    10. Mahasatipatthana sutta : petunjuk praktis untuk mengembangkan kewaspadaan
  2. Sihanada Vagga
1.      Culasihanada sutta : 4 tingkat kesucian
2.      Mahasihanada sutta : ketidaktahuan sunakkhata
3.      Mahadukkhakkhandha sutta : bahaya-bahaya kenikmatan indera
4.      Culadukkhakkhandha sutta : lobha dan moha
5.      Anumana sutta : 16 sifat keras kepala
6.      Cetokhila sutta : 5 macam duri mental dan 5 belenggu
7.      Vanapattha sutta : memilih tempat yang cocok untuk para bhikkhu
8.      Madhupindika sutta ; doktrin ajaran sang Buddha
9.      Dvedavitakka sutta : menjelaskan 2 pemikiran yang bermanfaat dan tidak
10.  Vitakkasanthana sutta : cara melawan munculnya buah pikir yang tidak bermanfaat dengan memunculkan buah pikir yang bermanfaat.
  1. Opamma vagga
1.      Kakacupama Sutta: tentang penguasaan emosi kepada seorang Bhikkhu.
2.      Alagaddupama Sutta: menjelaskan tentang cara yang benar dan salahuntuk mempelajari Dhamma.
3.      Vammika Sutta: menjelaskan tentang 15 pertanyaan yang diajukan dewa kepada Bhante Kumarakassapa.
4.      Rathavinita Sutta: menjelaskan tentang 7 tahap pemurnian.
5.      Nivapa Sutta: menjelakan tentang perangkap yang menghalangi para Bhikkhu.
6.      Pasarassi Sutta: menjelaskan tentang kehidupanNya
7.      Culahatthipadopama Sutta: mengenai keluhuran dan pencapaian keBuddhaan.
8.      Mahahatthipadopama Sutta: perumpamaan jejak kaki gajah.
9.      Mahasaropama Sutta: tentang kepuasan devadata dalam memeperoleh kemahsyuran.
10.  Culasaropama Sutta: tentang 6 guru yang menyatakan sebagai Buddha.
  1. Mahayamaka vagga
1.      Culagosinga Sutta: pujian Sang Buddha terhadap 3 Bhihhku yang melaksanakan kehidupan benar.
2.      Mahagosinga Sutta: pertanyaan Bhante Sariputta
3.      Mahagopalaka Sutta: menjelaskan kondisi-kondisi yang menyebabkan ajaran tumbuh kembang dan merosot.
4.      Culagopalaka Sutta: menjelaskan 11 faktor.
5.      Culasaccaka Sutta: menjelaskan tentang perdebatan antara Sang Buddha dan petapa kelana Saccaka mengenai atta.
6.      Mahasaccaka Sutta: pertanyaan tentang mengolah pikiran dan tubuh.
7.      Culatanhasankhaya Sutta: tentang seorang siswa Sang Buddha melatih dirinya sendiri untuk mencapai Nibbana.
8.      Mahatanhasankhaya Sutta: pandangan siswa Sang Buddha yang bernama Sati.
9.      Mahā-assapura Sutta: semangat penduduk Assapura dalam memberi dana kepada para Bhikkhu.
10.  Cula-assapura Sutta: rasa terimakasih Sang Buddha kepada penduduk assapura.
  1. Culayamaka Vagga
1.      Saleyyaka Sutta: tentang 10 perbuatan tercela dan 10 perbuatan baik.
2.      Veraňjaka Sutta: khotbah bagi perumah tangga.
3.      Mahāvedalla Sutta: orang yang terlatih dan orang yang tak terlatih.
4.      Culavedalla Sutta: pertanyaan tentang kepribadian.
5.      Culadhammasadana Sutta: mengenai 4 praktek.
6.      Mahadhammasamadana Sutta:menjelaskan 4 praktek yang lebih rinci.
7.      Vimamsaka Sutta: pernyataan ke-Buddha-n dapat diuji secara tajam.
8.      Kosambiya Sutta: tentang cinta kasih.
9.      Brahmanimantanika Sutta: mengenai pandangan salah.
10.  Maratajjaniya Sutta: tentang gangguan mara.
II.               Majjhima Paņņāsa Pāli
  1. Gahapati Vagga
1.      Kandaraka Sutta: melatih 4 metode kewaspadaan.
2.      Atthakanagara Sutta: tentang kelompok Dhamma.
3.      Sekha Sutta: jalan yang terdiri dari 3 langkah.
4.      Potaliya Sutta: tentang kehidupan suci.
5.      Jivaka Sutta: tentang makanan bagi para Bhikkhu.
6.      Upali Sutta: tentang argument kebenaran.
7.      Kukkuravatika Sutta: tentang 4 jenis tindakan dan akibat.
8.      Abhayarajakumara Sutta: tentang 6 macam ucapan dan 2 ucapan yang dilakukan.
9.      Bahuvedaniya Sutta: menjelaskan tentang macam-macam Vedana.
10.  Apannaka Sutta:tentang pandangan salah dari berbagai sekte dan pandangan benar yang ditunjukkan Sang Buddha.
  1. Bhikkhu Vagga
1.      Ambalatthikarahulovada Sutta: perlunya menjalankan peraturan moral.
2.      Marahulovada Sutta:mengenai 5 Khandha.
3.      Culamalukya Sutta: mengenai pertanyaan klasik yang sudah banyak dikenal.
4.      Mahamalukya Sutta: menjelaskan 5 belenggu.
5.      Bhaddali Sutta: Menegani peraturan Bhikkhu.
6.      Latukikopama Sutta: mengenai 5 bala.
7.      Catuma Sutta: bahaya dalam kehidupan Bhikkhu.
8.      Nalakapana Sutta:tentang tingkat pencapaian kesucian.
9.      Goliyani Sutta: 18 Dhamma yang harus diperhatikan oleh para Bhikkhu.
10.  Kitagiri Sutta: keuntungan dan kerugian makan.
  1. Paribbajaka Vagga
1.      Tevijjavaccha Sutta: tentang 3 macam pengetahuan.
2.      Aggavaccha Sutta:pertanyaan mengenai atta.
3.      Mahavaccha Sutta: penjelasan tentang perbuatan baik dan buruk.
4.      Dighanakha Sutta:penghapusan pandangan salah.
5.      Magandiya Sutta: mengenai kepercayaan yang salah.
6.      Sandaka Sutta: 4 pandangan salah yang dimiliki para pemimpin sekte.
7.      Mahasakuludayi Sutta: 6 pemimpin sekte yang bervassa di rajagaha.
8.      Samanamundika Sutta: penjelasan tentang pencapaian tingkat Arahat.
9.      Culasakuludayi Sutta; tentang pertanyaan atta dan sila.
10.  Vekhanassa Sutta: kebahagiaan spiritual lebih tinggi dari kesenangan indera.
  1. Raja Vagga
1.      Ghatikara Sutta: rasa hormat kepada yang lebih tua.
2.      Ratthapala Sutta: Ratthapala yang menjadi Arahat.
3.      Maghadeva Sutta: tentang pandangan salah mengenai 5 khandha.
4.      Madhura Sutta: penjelasan tentang moralitas yang lebih luhur dari pada kelahiran
5.      Bodhirajakumara Sutta: 5 sifat yang dapat memberikan inspirasi kepada para Bhikkhu.
6.      Angulimala Sutta: tentang pembunuh yang sangat kejam berlindung kepada  Tiratana hingga mencapai Arahat.
7.      Piyajatika Sutta: Sumber penderitaan.
8.      Bathitika Sutta: perbuatan, kata-kata yang tidak bajik.
9.      Dhammacetiya Sutta: tentang kerendahhatian.
10.  Kannakatthala Sutta: 4 kelas manusia dan tujuan mereka setelah kematian.
  1. Brahmana Vagga
1.      Brahnayu Sutta: 32 mahapurissa.
2.      Sela Sutta: kemahsyuran Sang Buddha.
3.      Assalayana Sutta:tentang 4 kelas masyarakat.
4.      Ghotamukha Sutta: 4 macam manusia yang menjalani praktek pertapa.
5.      Canki Sutta: diskusi tentang 3 veda.
6.      Esukari Sutta: penggolangan masyarakat menjadi 4 kelompok.
7.      Dhananjani Sutta: tentang macam isteri.
8.      Vasettha Sutta: Syarat untuk menjadi Brahmana.
9.      Subha Sutta: perilaku benar bukan hanya perumah tangga.
10.  Sangavara Sutta: 3 macam samana dan brahmana.
III.           Uparipaņņāsa Pāli
  1. Devadaha Vagga
    1. Devadaha Sutta: menolak pandanga salah yang dimiliki penduduk Nigantha.
    2. Pancattaya Sutta: penjelasan mengenai kepercayaan salah yang dimiliki sekte-sekte.
    3. Kinti Sutta: tujuan mengajar Dhamma oleh Sang Buddha.
    4. Samagama Sutta: tentang Guru dan siswa yang tidak sempurna.
    5. Sunakkhatta Sutta: pemantapan pencapaian Arahat.
    6. Anenja-sappaya Sutta: bahaya-bahaya menikmati kesenangan indeera.
    7. Ganakamoggallana Sutta: penjelasan rinci tentang peraturan yang harus diperhatikan.
    8. Gopakamoggallana Sutta: mengenai Sang Buddha yang tidak tergantikan.
    9. Mahapunnama Sutta: 5 kumpulan kemelekatan.
    10. Culspunnsms Sutta: perbedaan orang tidak baik & orang baik.
  2. Anupada Vagga
1.      Anupada Sutta: penjelasan rinci mengenai kebajikan Bhante Sariputta.
2.      Chabbisodhana Sutta: pernyataan sebagai seorang Arahat.
3.      Sappurissa Sutta: 26 sifat tolak ukur menilai seseorang.
4.      Sevitabbasevitabba Sutta: Penjelasan praktek dan tindakan yang harus dilakukan & tidak boleh dilakukan oleh Bhikkhu.
5.      Bahudhatuka Sutta: analisis Dathu.
6.      Isigili Sutta: sejarah bukit Isigili.
7.      Mahacattarisaka Sutta: 20 Dhamma
8.      Anapanassati Sutta: penjelasan sebagai metode meditasi.
9.      Kayagatasati: penjelasan perenungan 32 bagian tubuh.
10.  Sankharupapatti: 5 Dhamma yang bajik.
  1. Sunnata Vagga
1.      Culasunnata Sutta: penjelasan arti pembebasan ketiadaan melalui kebijaksanaan.
2.      Mahasunnata Sutta: tempat tinggal seorang Bhikkhu.
3.      Acchariya-abbhuta Sutta: 20 sifat luar biasa.
4.      Bakula Sutta: sifat-sifat luar baiasa sebagai Arahat.
5.      Dantabhumi Sutta: perbedaan Arahat dengan orang Biasa.
6.      Bhumija Sutta: Praktek jalan Mulia.
7.      Anurudha Sutta: 4 praktek meditasi.
8.      Upakkilessa Sutta: mengajarkan tentang kekotoran mental.
9.      Balapandita Sutta: Orang bijaksana dengan orang tolol.
10.  Devaduta Sutta: akibat tindakan buruk.
  1. Vibanga Vagga
1.      Bhaddekaratta Sutta: penjelasan rinci ttg Vipassana.
2.      Ananda- bhaddekaratta Sutta: pengulangan khotbah oleh Ananda.
3.      Mahakaccana-bhaddekaratta sutta: perenungan 5 khandha.
4.      Lomasakangiya- bhaddekaratta sutta: penjelasan rinci 5 khanda.
5.      Culakamma-vibhanga Sutta: 14 pertanyaan kepada Sng Buddha.
6.      Mahakamma-vibhanga Sutta: 4 jenis individu.
7.      Salayatana-vibhanga Sutta: 6 landasan indera.
8.      Uddesa-vibhanga Sutta: pengendalian pikiran thdp landasan indera.
9.      Arana-vibhanga Sutta: penjelasan rinci tentang praktek jalan tengah.
10.  Dhatu-vibhanga Sutta: 6 unsur.
11.  Sacca-vibhanga Sutta: 4 kebenaran mulia.
12.  Dakkhina-vibhanga Sutta: 14 & 7 jenis dana.
  1. Salayatana Vagga
1.      Anathapindikovada: dorongan agar tidak melekat pada 6 landasan indera internal, tdk melekati 6 landasan indera eksternal.
2.      Channovada Sutta: instruksi meditasi Vipassana.
3.      Punnovada Sutta: 6 kategori keuletan.
4.      Nandakovada Sutta: 12 kategori landasan indera eksternal & internal, 6 jenis kesadaran.
5.      Cularahulovada Sutta: penjelasan tentang sifat tidak kekal dr 12 landasan indera.
6.      Chachakka Sutta: mengenai kelangsungan fenomena kehidupan.
7.      Mahasalayatanika Sutta:landasan indera internal.
8.      Nagaravindeyya: perbedaan antara samana & Brahmana yang patut mendapatkan penngormatan atau tidak
9.      Pindapataparisuddhi sutta: peringatan kepada para bhikkhu ketika pergi mengumpulkan dana makanan.
10.  Indriyabhavana sutta : perbedaan antara pengendalian indera yang dipraktekan oleh seorang Arahat dengan orang yang masih berlatih.